...Engkau telah membuat hatiku bak rumah perbendaharaan dari permata kata bagi lidah untuk memilih. Pisahkanlah hingga terbuka kantong kesturi dari kepandaianku dan sebarkanlah harumnya dari timur ke barat. Berikan kepada pena bambuku manis batang tebu. Harumilah dengan wewangian, hidupku ini. Karena engkaulah Hanin Sapphire, permata di bait-bait rinduku . .
Yang pertama; hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan;dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.
Yang kedua: hari esok. Hingga mentari esok hari terbit,anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja.
Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.
"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)
Semua telah menjadi ketentuan. tidak terkecuali. tidak ada satu biji dzarrah-pun yang lepas dari pengawasanNya. dan tidak ada satu tetes airmatapun bersama doa yang sepenuh yang tidak dilihat dan didengarNya. Maka dengarlah seru hatiku yang telah bertasbih atas namaMu, Tuhan. Hati yang sempat terseok di kelana hidup. hati yang jua tertambat di sekeping hati lainnya. " Berikanku ketetapan hatiku atasMu sahaja, dan tetapkan kecondonganku pada kebenaran dan pilihan-pilihan yang benar ". Berilah pada hati kejernihan. Bersanding hidup dengan kenyataan-kenyataan pahit yang harus kita hadapi, dan kita terima. Keikhlasan. itu kunci, dan dengannya kita akan berupaya bahagia. Dengan, ataupun tanpa. Mungkin ini jawaban dari do'a yang berulang kali kita laungkan kehadiratNya : "Berilah yang terbaik bagi kami ... :"
Semoga, karena Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi kita.
Dan semoga tak ada siksa yang mendera dan membawa ragu...
Medio Januari 2008
Cinta, bagi pejuang adalah lirik harmonis yang mengalun dari ragam corak instrumen yang dimainkan orkestra kehidupan. Berpadu bersama pendar cahaya kudus dan semilir angin perubahan. Melodinya indah, cantik, mengayunkan hati pejuang menuju elaborasi citanya. Tidak seperti halnya babi jantan pada betinanya, bukan semata kumbang pada kembang bermadu. Ianya adalah akumulasi getar jiwa yang mencapai klimaksnya, Cinta dengan demikian adalah modal niscaya pula ...
Risau dan Cinta adalah istilah yang berbeda, namun tak salah bila keduanya bertemu di dermaga cita-cita, setelah berangkat melewati perjalanan dari panjang pantai jiwa. Risau ada karena kita bercita-cita, pada akhirnya risau menemukan geraknya karena getar cinta pada yang dirisaukannya.
Risau dan cinta adalah karakter khas pemimpin besar, sebagaimana 'Umar Ibnul Khattab dan juga cicitnya; 'Umar Ibnul Azis. Pemimpin yang telah paripurna kualitas kepemimpinannya; dengan risau dan cinta. Adakah kita mewarisi keduanya ?
Prenjak belum terjaga, tinggal rintik kecil dari langit yang bersuara...
kota Bahari, 05/02/2006
"Apalah engkau dibanding Sang Kuasa ?
belajarlah pada sarwa yang hidup
berdendang tasbih dan dzikir yang khusyu';
harmoni diantara ragam keindahan yang jumawa"
Betapapun banyak kisah yang terlewat, namun seringkali tak sempat kita sekadar memberi salam bermakna padanya. betapa sering alam menyampaikan sesuatu kepada kita, namun tak sedikitpun kita tersadar oleh teriakannya. Aku menikmati rendezvous-ku dengan sarwa, kusambut hangatnya beburung dan sejuknya udara pegunungan. Mereka begitu ramah, hangat, namun kulihat mendung diwajahnya. Dataran tinggi Curug yang dulu diisi pepohonan jati, kini berganti rupa menjadi kebun jagung yang kering tak laik panen. kemana gerangan kawan-kawan lamaku berada ?
Kutatap kendaraan pengangkut barang yang berjalan melewatiku, kulihat setumpuk, dua tumpuk, bertumpuk-tumpuk batang kayu didalamnya. Aku tersentak. sekali lagi kutatap nanar dengan segudang tanya yang entah. Aku tak bisa menyalahkan ibu-ibu petani yang mencangkul ladangnya yang bekas pepohonan jati. tak kuasa aku meneriaki mereka yang sedang menghidupkan gergaji besar memotong perlahan pepohonan jati; temanku. tempat teman-temanku yang lain juga bertengger dan berkicau.
nada-nada indah yang sulit dimainkan, tak kurang indah kudengar
ada awan dibalik pesona dan keperkasaan gunung
ada prenjak bernanyi di pohon jati yang tersisa
gemiricik air yang melewat kerasnya bebatuan
relief cadas bertambat sulur-sulur tarzan"
Mampir Ngombe, setidaknya petuah ini merujuk pada satu frase; yakni kefanaan dunia termasuk manusia dengan segala keterbatasannya. Kita telah diberikan kesempatan oleh-Nya hidup didunia dengan beragam corak dan warna yang menghiasinya. ada senang, susah, sedih, gembira, nikmat dan sengsara. namun, tentu tak sekadar itu kita "ada" (being). Tuhan mencipta manusia dan seisi jagad raya dengan tujuan tertentu yang harus kita pahami, dan untuk itulah manusia harus "menjadi" (becoming).
Jika saja kita hidup hanya memperturutkan keinginan-keinginan saja, maka apalah arti kita "ada" , dan proses "menjadi" akan bermakna sempit. manusia sekadar melewati waktu hidup untuk sesuatu yang tidak hidup. begitu saja, ya ! hanya begitu. Maka, mampir ngombe adalah bahasa yang tepat untuk menjelaskan kehidupan. karena setelah ngombe, tidak berarti selesai. ada yang harus dikerjakan setelahnya, sesuatu yang hendak diraih sesudahnya. mampir ngombe adalah istilah yang mengelaborasikan keyakinan akan tujuan hidup. Fokus.
Tidak ada yang salah dengan ngombe, karena itulah menunjukkan ke-manusia-an kita sebagai "makhluk bumi", namun sudah sejatinya kita mereguk banyak ilmu bermanfaat sebagai bekal menjadi "makhluk langit".
mari, sejenak mampir ngombe ...
* Ngombe (jawa) : minum
